Archive

Archive for the ‘Sosialisme Kerakyatan’ Category

IDEOLOGI [1]

February 12, 2010 1 comment

IDEOLOGI

Pada hakekatnya Ideologi berada diantara WAHYU dan AJARAN.
Ideologi merupakan atas dari Ajaran bertangga naik, dan merupakan bawah dari Wahyu bertangga turun.

Formulasi-formulasi Ajaran dan/serta spekulasi-spekulasinya, diserap dan diluruskan di dalam kaidah-kaidah Ideologi, dan bertemu atau bersatu di situ dengan ayat-ayat Wahyu yang telah diturunkan oleh Sang Maha Pencipta-Yang Maha Esa melalui Utusan-utusan-Nya atau Nabi-nabi-Nya atau Rasul-rasul-Nya.

Segala Ajaran dan Adat yang merupakan turunan-turunannya itu, dikumpulkan kembali ke dalam Ideologi. Saringan Ideologi mencampakkan unsur-unsur destruktif yang sudah berkarat di dalam praktek adat serta unsur-unsur yang telah mengkontaminasi ajaran-ajaran yang murni yang dibawa oleh Utusan-utusan yang tersamar itu.

Titik-titik temu atau lapisan-lapisan pengentalan yang terjadi antara Wahyu dan Ajaran, menjadi milik Ideologi, menjadi formula-formula Ideologi, menjadi tatanan-tatanan baru, dalam pengembangan hidup manusia.

Segala manipulasi-manipulasi dan kekotoran terhadap Wahyu, yang telah disampaikan oleh para Rasul agama Samawi, juga disaring dan dimurnikan kembali oleh Ideologi. Wahyu yang sudah tumbuh menjadi jiwa atau watak serta akal budi manusia, diambil dan dilestarikan oleh Ideologi.

Ideologilah yang mempasak-pasak atau menyatukan pasangan-pasangan yang harmonis, dari unsur-unsur Wahyu dan unsur-unsur Ajaran menjadi saripati perjuangan kemanusiaan, menjadi pedoman kelestarian hidup di dalam alam ciptaan Tuhan Sang Maha Pencipta – Yang Maha Esa dan dalam pergaulan hidup antar manusia itu sendiri.

Marxisme – Leninisme – Stalinisme itu barulah merupakan percobaanuntuk membangun suatu Ideologi yang mendasarkan diri kepada nilai pikir semata atas hasil analisa terhadap faktor-faktor ekonomi, sosial, politik, dan perkembangan-perkembangan lainnya yang terjadi dalam sistem kapitalis. Konsep ini mengabaikan sama sekali unsur-unsur Wahyu dan Ajaran.

Sumber Ideologi adalah Wahyu. Penyangganya, penopangnya, pelengkapnya adalah Ajaran. Secara total keduanya sebenarnya adalah satu jua, diteteskan dan dibawa oleh para Utusan Allah. Keduanya setelah diberi kesempatan beradaptasi dengan alam dan makhluk lainnya di bumi – khususnya manusia melalui Sunatullah, baik yang kotor maupun yang cipta antar aksi yang baik, akhirnya tergumpal di dalam Ideologi melewati penjernihan-penjernihan dan pencerahan-pencerahan sepanjang jaman yang dilaluinya.

Jadi, sebenarnya Ideologi itu meng-alam, melalui penyerapan oleh fithrah manusia terhadap Wahyu dan Ajaran. Ideologi merupakan gumpalan-gumpalan yang jernih yang sambung-menyambung, yang tercipta di dalam dan sepanjang jaman.

Perang Strategi antara Amerika Serikat versus Republik Rakyat China adalah “adu Grand Design”, dalam tataran strategi, bukan dalam tataran Ideologi. Ini bukan “Perang Ideologi”, karena baik AS maupun RRC tidak mengenal Ideologi.

Nasionalisme dan Patriotisme sudah jelas tidak mampu lagi mengisi “Kehampaan Ideologi” bangsa. Hampa Ideologi yang telah terjadi di dalam tubuh bangsa ini, karena qalbunya mati, nuraninya tumpul, otaknya rongsokan. Kelanjutannya adalah: patriotisme, idealisme, nasionalisme telah terhapus dari jiwa-bangsa. HAMPA IDEOLOGI itulah kata kuncinya.

Sesungguhnya Pertahanan Strategis rakyat, bangsa dan Negara Republik Indonesia ini adalah :
[1] ekonomi kerakyatan yang berakar,
[2] tentara professional,
[3] Ideologi.

Karena hampa Ideologi, maka otakpun menjadi rongsokan, kehilangan daya kreatif, kehilangan jatidiri selaku orang Indonesia yang berpijak pada kekuatan-kekuatan Sumber Daya Alam-Asli milik bangsa Indonesia.

Sumber atau “induk” Strategi adalah IDEOLOGI.
IDEOLOGI menurunkan STRATEGI.
STRATEGI menurunkan TAKTIK.
Grand Design bahagian dari satu Strategi.
Strategi bahagian dari suatu Ideologi.
Grand Design adalah satu Seksi dari Ideologi.

Jadi, ada Ideologi, dari Ideologi turun ke Strategi, dari Strategi turun ke Taktik. Grand Design berada di antara Strategi dan Taktik. Bisa juga dianggap, grand design itu sebagai suatu “strategi kecil” atau “taktik besar”.

Grand Design yang Strategi Kecil menurunkan Taktik yang non-Ideologis, yaitu taktik-operasional yang berada dalam jalur sistem. Suatu sistem dapat berada pada jalur Strategi-Ideologis, dapat pula berada pada jalur Grand Design non-Ideologis. Taktik dan Sistem di dalam jalur Strategi-Ideologi tentu sangat berbeda dengan Taktik dan Sistem di dalam jalur Grand Design non-Ideologis.

Moral dan kebajikan menguap dari tataran jalur Grand Design. Itu membuktikan bahwa Grand Design tidak ada hubungan dengan Ideologi, karena Ideologi bersumber dari Wahyu.

Seorang KADER harus benar-benar memahami bahwa setiap detik ia berada dan berinteraksi, dengan/dalam 3 [tiga] instrument besar di dalam dirinya, yaitu :

[1] instrumen IDEOLOGI,
[2] instrumen KERAKYATAN,
[3] instrument POLITIK.

Ideologi lebih luas dari Kerakyatan dan Politik. Kerakyatan lebih luas dari Politik. Ketiga instrument ini harus berpadu, di dalam Jiwa, Karakter dan Mental seorang Kader. Kekurangan salah satu unsur tersebut akan mengakibatkan terjadinya kepincangan atau disharmoni pribadi seorang kader. Semua instrumen merupakan total kepribadian sebagai pencerminan jati diri seorang Kader, disinilah letak Nilai-Kualitas seorang Kader.

Pencampuran dari ketiga Instrumen tersebut, akan membentuk “fithrah-baru” bagi seorang Kader. Kader-Ideologis, Kader-Kerakyatan, Kader-Politik. Dan mutlak harus ada Kader-Organisasi. Salah satu kerja Kader-Organisasi adalah membangun jaringan Intelijen seluas-luasnya. Perangkat Organisasi adalah Seksi kader-kader Security dan Seksi kader-kader Intelijen. Kader-Intelijen adalah jenis Kader yang harus sangat matang, secara mental dan karakter.

Musuh Organisasi yang terbesar adalah KEHAMPAAN IDEOLOGI. Kultur-aman dan Kultur-syahid merupakan dua kutub yang datang kemudian, di dalam proses perjalanan perjuangan penegakan Ideologi. Harga syahid akan dibeli oleh para Kader demi mempertahankan Ideologi, karena telah merekat dan menyatu dengan nilai-nilai Agama dan inti-inti Ajaran, dalam kadarnya yang telah menjadi lebih murni. Jadi, mempertahankan Ideologi adalah paralel atau berdampingan, saling menunjang dengan mempertahankan nilai-nilai Agama dan Ajaran.

IDEOLOGI ITU SUATU ANUGERAH, BUKAN ILMIAH. Ideologi itu membantun ke dalam pikiran manusia, datang dari dunia lain, bukan dari strata empiris. Ideologi itu semacam suatu Rahmah bagi manusia. Ia merubah dunia, terutama terhadap cara berpikir manusia. Ideologi mem-pola-kan cara berpikir orang, dengan menyingkirkan cara berpikir curang, mengenai nilai-nilai kemanusiaan.

Ideologi itu seperti tampak jauh tetapi dekat, melekat di dalam hati sanubari manusia dan bangsa. Ideologi bebas mencari bentuknya sendiri, dalam cara menelusuri kekeringan simpati terhadap Tuhan di dalam tubuh suatu bangsa. Tetapi Ideologi dapat bergerak-cepat bagaikan kilat, memasuki arus-pikir manusia. Ideologi menentang kejahilan yang bersarang di dalam diri manusia, mencerahkannya, sehingga dapat kembali mengenal Tuhan.

Ideologi bukan barang rampasan tetapi suatu yang jadi sendiri. Tumbuh macam rumput di padang steppa, dari bawah mencuat ke atas. Kemudian menimbulkan keindahan dalam pandangan manusia. Keindahan inipun masih merupakan Rahmah, dari Sang Maha Pencipta sebagai tanda kebesaran-Nya. Jadi, ideologi itu bukan hitung-hitungan atau matematika. Ia afdhol dan sebagai sumber kebijaksanaan dalam cara berpikir serta nalar manusia.

Dan Ideologi takkan amprok dengan kenyataan, sebab Ideologi itu sendiri adalah suatu kenyataan. Ideologi itu suatu garis-nalar yang menelusup ke dalam jiwa dan hati sanubari manusia. Ia bukan ilmu wetenschap. Ia pencipta-ilmu di sepanjang garis-nalar yang menelusup tersebut Ideologi menimbulkan inspirasi dan menyiapkan manusia mampu menerima ilham dari Tuhan nya.

Ideologi berakar-tunggang, membumi, bersemi di dalam hati sanubari manusia, Bergerak dalam “BINGKAI – ISLAMI” yang sangat luas. Mulai dari masa yang lalu, dimana tetesan-tetesan Wahyu disampaikan melalui para Nabi, sampai ke masa yang akan datang dalam kehidupan manusia.

Maka pada pucuknya, ideologi memanjatkan DOA kepada ALLAH Rabbul `Alamin.

Ideologi melintasi wilayah-wilayah, bangsa-bangsa, dan negara-negara. Tidak terikat dengan ruang dan waktu.

IDEOLOGI ITU MENYATU DENGAN ALAM.

Sesungguhnya, Ideologi itu satu-kesatuan dengan alam. Satu nisan, artinya apabila hancur alam ini maka hancurlah Ideologi. Jadi, Ideologi itu meng-alam, menghayati dan melugas bersama unsur-unsur “alami” serta ISLAMI lainnya. Ideologi suatu postur-hakekat yang berkendali di dalam Wahyu serta bertali ke dalam Ajaran.

Ideologi itu suatu obat, semacam kristal berkhasiat yang dapat melebur daki dunia, ke dalam alam bawah sadar, kemudian menimbulkannya kembali ke permukaan dengan nalar, yang menafikan daki dunia itu. Daki dunia adalah suatu barang rongsokan, musuh Ideologi.

Ideologi itu sendiri keramat, artinya: apa katanya, jadi dan baik. Secara keseluruhan, Ideologi itu luhur, bermartabat. Di pundaknya, ia mengusung beban dunia yang telah terkontaminasi, lalu dihambungkannya ke dalam “kawah pencerahan rohani”, untuk dibersihkan serta dijernihkan ke dalam bentuk akal budi intelektual, yang berpihak kepada kebenaran, keadilan dan kemanusiaan.

Ideologi bukan teori-teori berdasarkan perjalanan empiris yang berjela-jela,

dari suatu teori ke teori lainnya yang berkembang dari zaman ke zaman.

Bukan itu Ideologi.

Ideologi itu telah ada sejak Wahyu “diulurkan” kepada manusia.

Lalu Ideologi yang “terlekat” di dalam Wahyu itu “keluar mencari pengalaman”

di dalam jiwa manusia ke dalam perjalanan empiris Wahyu-wahyu yang diturunkan,

sedikit-sedikit dalam waktu ribuan tahun.

Ideologi juga bukan hukum alam.

Hukum alam itu sebenarnya sunatullah yang terlekat di dalam materi-fisik,

dimana di dalamnya tersembunyi keghaiban, rahasia Allah.

Ideologi terdiri dari unsur-unsur Wahyu dan unsur-unsur Ajaran.

Otak manusia itu “materi”, bukan Wahyu dan bukan Ajaran.

Otak manusia itu bagian dari alam,

oleh karena itu bekerjanyapun sesuai dengan sunatullah,

Padamana “terlekat” unsur ghaib di dalam dirinya.

Otak manusia yang dibiarkan bekerja,

dari suatu proses empiris ke proses empiris lainnya,

tapi “terlepas” dari Wahyu dan Ajaran

dan “tidak dihinggapi” oleh Wahyu dan Ajaran,

otak manusia itu sama dengan otak hewan.

Otak hewan itulah yang menghasilkan isme-isme.

Ideologi akan putus asa bila kebenaran diinjak-injak.

Atau bila kebenaran diganti dengan kenistaan hati-sanubari manusia.

Qudus-lah Ideologi dari pancawarna nuansa irihati

yang bersarang di dalam jiwa manusia.

Ideologi berkepentingan dengan nuansa kebersihan hati-qalbi manusia,

yang menunjukkannya ke jalan kebenaran yang hakiki.

Gelombang nuansa iman dipertahankan secara teguh di dalam strata Ideologi,

sebagai pencocok hadist-hadist Ideologi terhadap ayat-ayat Wahyu yang absah.

Cahaya iman mendominasi hati seorang Ideolog,

yang mengancam kekeringan yang mungkin terjadi,

terhadap  tataran emansipasi kultural

yang disodorkan oleh kekerdilan jiwa manusia.

Kehadiran Ideologi bukanlah suatu revolusi tetapi suatu Kelahiran.

Ia terkandung di dalam sangkar-sangkar atau kotak-kotak atau tataran-tataran,

padamana disitu terjadi proses Wahyu yang bertangga-turun

dan Ajaran yang bertangga-naik.

Suatu kelahiran dari kandungan berabad-abad

dalam perjalanan sejarah kehidupan umat manusia.

Uraian ini sangat membuktikan bahwa :

Ideologi terkait-erat bahkan merupakan Keturunan dari Wahyu dan Ajaran.

Tidak disangsikan lagi bahwa Ideologi harus menghormati Wahyu dan Ajaran.

Sementara Wahyu dan Ajaran tidak pernah menjadi layu,

sebaliknya Ideologi semakin hari kian tumbuh menjadi dewasa.

Segala yang lahir di luar hubungan Wahyu dan Ajaran bukanlah Ideologi.

Tidak ada paksaan dalam kelahiran Ideologi.

Ia lahir secara ALAMIAH, BATHINIAH, dan KEGHAIBAN.

ISLAM bukan Ideologi, itu AGAMA.

Agama yang berdasarkan Wahyu yang termaktub di dalam Kitab Suci Al Qur`anul Karim,

yang dibawa oleh seorang Rasul yaitu Nabi Muhammad S.A.W.

Jangan dicampur-aduk Agama dan Ideologi.

Agama ya Agama, Ideologi ya Ideologi.

Agama semata-mata berdasarkan Wahyu,

yang langsung diturunkan oleh ALLAH Sang Maha Pencipta,

sedangkan Ideologi “turun” dari butiran-butiran Wahyu

dan “naik” dari bumi Ajaran.

Ideologi itu ibarat Guru Mursyid yang hadir,

Member itahu dan mengajar kepada “qalbu, hati, otak dan intelligensia”.

Guru Mursyid itu bukan orang tetapi semacam Ruh halus yang tidak terdeteksi,

baik oleh manusia biasa maupun oleh Jin.

Dan apabila Guru Mursyid yang menjelma semacam berbadan atau bertubuh,

itu Jin !!

Bukan Guru Mursyid.

Bersambung :

[1]  ISLAMI

[2]  SOSIALISME

[3]  KERAKYATAN

[4]  SOSIALISME KERAKYATAN

[5]  IDEOLOGI SOSIALISME KERAKYATAN YANG ISLAMI  [ SKYI ]

Belajar Menjadi Manusia

December 23, 2008 Leave a comment

-
Hari ini aku mencoba mulai menulis cerita kehidupan ku
Mungkin akan menemani langkah di perjalanan hidup ku
Dimulai dari setitik keberanian yang mulai aku kumpulkan
Mungkin suatu saat menjadi memorial yang berharga untuk seseorang

Semua ini berawal dari harapan
Hidup memang dimulai dari menatap pencapaian sebuah harapan
Semua makhluk di bumi berharap yang sama
Kebahagiaan. .
Meski bentuk dan cara mencapai kebahagiaan selalu berbeda

Entah mengapa aku berpikir hidup ini benar-benar singkat
Hidup seperti terhenti ketika kita melihat kebahagiaan menyinari tatapan mata
Hidup seperti dipenuhi berjuta makna di balik senyuman bahagia
Hidup seperti penuh arti di hadapan kenyataan kehidupan
Hidup seolah menjadi baik-baik saja jika sejenak kita lupakan beban dunia

Dan memang benar mestinya kita menikmati kehidupan
Namun terungkap lebih indah jika katakan saja bahwa semua ini tentang bersyukur
Tidak perlu kalimat dirangkai seolah dipenuhi makna
Jika cukup dengan jujur saja pada hati dan biarkan manusia mengerti mengenal diri
Sesungguhnya kita manusia sering lupa diri dan lupa ingatan
Kita semua bernasib sama, belajar menjadi manusia.
-

JUMI SANOPRIKA  J. PINIM
2008.12.09 – 11:07

2008.12.pdf

Pertanyaan Khusus tentang Aceh

October 30, 2008 2 comments

Khusus tentang Aceh :

Pertanyaan Tertulis So Aduon Siregar, B.A kepada Presiden RI dan Wakil Presiden RI

Susilo Bambang Yudhoyono & Muhammad Yusuf Kalla

. . .

Pengantar

Seyogianya dan sebaiknyalah jawaban diperlukan tertulis dan akan menjadi referensi tulisan yang akan saya siarkan di beberapa Harian Medan. Saya siapkan untuk menyiarkannya adalah HARIAN “MEDAN POS”, seperti telah menyiarkan PERTANYAAN TERTULIS ini. Kliping pemuatannya ikut saya lampirkan bersama ini, di samping visi dan misi Capres RI dan Wacapres RI namun dalam menyebarluaskan visi, misi Presiden dan Wakil Presiden semasih sebagai Capres dan Cawapres RI, khususnya di Sumatra Utara belum meluas dan tidak sampai kepada masyarakat arus bawah.

Saya juga ingin menulis lebih jauh dan secara rinci hasil paparan Capres dan Cawapres, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Saya harap juga mendapatkan biodata resmi yang lebih lengkap yang turut akan disiarkan, terutama lewat Harian MEDAN POS, dan INFO PRIMA yang diterbitkan Badan Informasi dan Komunikasi Propinsi Sumatera Utara di Medan.

Seyogianya pertanyaan ini, seperti telah saya siapkan, adalah jauh sebelum PILPRES, tetapi tidak satupun media massa bersedia memuatnya, karena menganggap berupa pra kampanye dan sifatnya komersil!.

= Medan, 5 Oktober 2004 =

Pertanyaan Khusus tentang Aceh :

Kenapa dalam menangani masalah GAM tidak dilakukan seperti menangani kasus Teungku Daud Beureueh, DI/TII di tahun 1953 sehingga dengan sadar dan ikhlas beliau kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan mendapatkan amnesti ?

“Rakyat dan Jiwa Atjeh adalah murni Republiken dan jiwa ulama nya adalah nasionalis sejati..” (Saya ulang menuliskan ini sebagai catatan bagi kita bahwa Propinsi NAD sudah pulih dari keadaan Darurat dan dikembalikan kepada keadaan Darurat Sipil. Bila benar-benar kita sadar, dalam program 100 hari Kabinet ini, hendaknya sudah dapat pulih kembali tanpa harus darurat-darurat lagi. (Dimuat di Harian Perjuangan, Mimbar Umum, Medan Pos dan Info Prima)

Gubernur Militer Propinsi Aceh, Alm. Teungku Abu Daud Beureueh pernah berkata: “Perjoeangan Repoeblik Indonesia adalah sebagai sebagai samboengan perjoengan dahoeloe di Atjeh dipimpin oleh Almarhoem Tjhi di Tiro dan pahlawan-pahlawan kebangsaan lainnya”.

“Dan perjoengan ini menoeroet kejakinan kami adalah: PERJUANGAN PERANG SABIL. Kesetiaan rakjat Atjeh kepada Pemerintah RI boekan diboeat-boeat ataoe diada-adakan, tetapi kesetiaan jang toeloes dan ichlas jang keloear dari hati noerani”

Tidak sampai dua bulan setelah Republik Indonesia ini diproklamirkan oleh Bung Karno, keluarlah Maklumat Ulama se-Aceh berjudul “Makloemat Seloeroeh Oelama Atjeh” yang isinya: “Segenap rakjat Atjeh bersatoe padoe patoeh berdiri di belakang Maha Pemimpin Ir. Soekarno!” (lihat Mimbar Umum, Sabtu, 8 September 2001, halaman 4: “Rakyat Aceh lah obyeknya, bukan GAM”, penulis: So Aduon Siregar, B.A), yang dikumandangkan ke seluruh dunia dan ditandatangani oleh Tengkoe Hadji Hasan Kreung Kale, Tengkoe M. Daoed Beureueh, Tengkoe Hadji Ahmad Hasballah Indrapoeri dan Tengkoe Hadji Dja`far Sidik Lamjabat, diperbuat di Koetaradja pada tanggal 15 Oktober 1945 berupa seruan kepada segenap rakyat aceh dalam mendukung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, sambil menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan. Di akhir pernyataan itu, keempat ulama besar ini menyatakan lagi: “Menoeroet kejakinan kami bahwa perdjoeangan ini adalah perdjoeangan sutji yang diseboet perang sabil”. Seterusnya maklumat itu berbunyi, untuk meyakinkan rakyat Aceh bahwa: “pertjajalah wahai bangsa koe bahwa perdjoeangan ini adalah sebagai samboengan perdjoeangan dahoeloe di Atjeh yang dipimpin oleh Almarhoem Tengkoe Tjhi` di Tiro dan pahlawan-pahlawan kebangsaan jang lain”.

Maklumat keempat tokoh ulama besar Aceh ini diketahui oleh Residen Aceh Teungku Nyak Arif dan disetujui oleh Ketua Komite Nasional Tuangku Mahmud.

Tidak hanya sampai di sini kesetiaan rakyat Aceh.

Tercatat dalam sejarah :

Saat ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Yogyakarta diduduki Belanda pada tanggal 19 Desember 1948, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta dan beberapa pemimpin ditawan Belanda, Aceh tetap setia kepada NKRI. Kemudian agar tidak terjadi kekosongan NKRI, kepada Mr. Syafrudin Prawiranegara diberikan mandat membentuk Pemerintah Darurat RI yang berkedudukan di Bukit Tinggi.

Sekitar tiga bulan setelah Yogya diduduki Belanda, tanggal 17 Maret 1949, datanglah undangan dari Wali Negara Sumatra Timur, Tengku Dr. Mansur kepada Gubernur Militer Atjeh Tengku M. Daud Beureueh untuk menghadiri muktamar Sumatera yang akan diadakan di Medan, 28 Maret 1949 (berupa negara boneka ciptaan penjajah Belanda, memecah belah NKRI, ciptaan Van Mook, berupa negara-negara federal versi penjajah Belanda, dikenal dengan Negara Federal model DR. Van Mook, pencipta negara-negara federal di Indonesia; Negara Sumatera Timur, Negara Pasundan, Madura, Borneo, Selebes dan sebagainya.

Tujuan muktamar adalah 1] untuk mengadakan hubungan pertama di antara daerah-daerah dan suku-suku bangsa Sumatera, 2] mengharapkan hubungan pertama ini berangsur-angsur tumbuh menjadi pertalian yang bertambah erat untuk kebahagiaan bangsa Sumatera dan bangsa Indonesia seluruhnya, 3] yang diundang adalah: Aceh, Tapanuli, Minangkabau, Bengkalis, Indragiri, Jambi, Riau, Bangka, Blitung, Sumatera Selatan, Lampung dan Bengkulu.

Analisis dari bunyi “perasaan KEDAERAHAN di Atjeh TIDAK ADA, sebab itoe kita tidak setoedjoe”, situasi dan kondisi ini walau ada tiga pilihan dan kesempatan bagi rakyat Aceh, yaitu 1] Aceh dapat meninggalkan NKRI serta merta dan bergabung dengan Negara Boneka Sumatera Timur yang akan dibentuk, 2] Peluang untuk menjadi negara merdeka sendiri, 3] Tetap dalam pangkuan NKRI.

Jawaban Aceh atas undangan Negara Boneka Sumatera Timur ini dimuat pada Harian “Semangat Merdeka” yang terbit di Koetaradja waktu itu tanggal 23 Maret 1949, yaitu pernyataan Tengku M. Daud Beureueh sebagai Gubernur Militer Aceh yang meliputi Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Selengkapnya berbunyi: “Tidak bermaksoed untuk membentoek soeatoe Atjeh Raya dan lain-lain karena kita  tahdi sini adalah bersemangat Repoeblikein. Sebab itoe joega, oendangan Wali Negara Soematra Timur itoe kita pandang sebagai tidak ada sadja, dari karena itoelah tidak kit a balas”

Lebih lanjut Tengku M. Daud Beureueh mengatakan “. . . . . kesetiaan rakjat Atjeh terhadap pemerintah RI boekan diboeat-boeat serta diada-adakan, tetapi kesetiaan yang toeloes dan ichlas, jang keluar dari hati noerani dengan perhitoengan dan perkiraan yang pasti. Rakjat Atjeh tahoe pasti bahwa kemerdekaan secara terpisah-pisah, negara per negara tidak akan mengoentoengkan dan tidak akan membawa kepada kemerdekaan jang abadi”.

Memang, 58 tahun silam bulan madu antara RI dan Rakjat Atjeh terjadi. Namun “hati nurani Aceh” adalah “setia” dan itu akan tetap terjamin dan terbentang.

Apakah benar bahwa yang menamakan dirinya dan yang dinamakan GAM itu terdiri dari berbagai dan beberapa fraksi ?

Menurut catatan yang kami dapat, yang menamakan dirinya Dr. Hasan di Tiro itu bukan saja bukan orang Tiro, tetapi adalah asli orang Jawa yang berasal dari Banten, dan baru masuk ke Aceh adalah Kakek nya, dari jalur Bapak yang bernama Tengku Ma`at meninggal tanggal 4 Desember 1911, dijadikan Hasan sebagai hari Deklarasi GAM, 4 Desember 1966. Bapaknya, Leubee Muhammad dari Tanjong Bungong Lameulo, Pidie. Dari jalur Ibu nya adalah Fatimah anak Majidin, anak Syech Saman anak dari Tengku Pakeh Klibet alias Tengku Samalanga juga berasal dari Banten (lihat “SILSILAH HASAN MA`AT alias HASAN TIRO).

Di Swedia, markas besarnya lebih kurang 20 km dari Stockholm, sehari-hari dia harus dipanggil dengan nama Yang Mulia Hasan Chazibul Akbar Di Tiro dan nama lengkap yang dipublikasikannya adalah Al Mudzabir Al Maulana Al Malik Al Mubin Professor Doctor Sultan Di Tiro Muhammad Hasan Ibnal Sultan Ma`at Di Tiro, satu-satunya pewaris Tengku Umar dan Tengku Chik Di Tiro.

Diketahui dari catatan sejarah yang ada, anak bungsu Tengku Chik Di Tiro, Pahlawan Nasional yang legendaris itu, yang terakhir adalah Tengku Mayet yang gugur melawan Kompeni, tanpa punya anak, masih muda, pada tanggal 5 September 1910.

Hasan Ma`at alias Hasan Tiro ini adalah penganut ajaran Nietzche dan Machiavelli yang kental !!

. . .

[ Bersambung . . .  "Silsilah Hasan Ma`at alias Hasan Tiro" ]

. . .

Ditulis Ulang Oleh:

Jumi Sanoprika J.P, S.E

[ ex Koordinator Liputan Aceh - Harian Medan Pos, sekarang sebagai Kepala Biro Pidie - Eksekutif ]

Merdeka dalam Penjajahan

October 25, 2008 1 comment

Apa itu “merdeka dalam penjajahan” ? Merdeka dalam penjajahan adalah persepsi kondisi bangsa dan negara Indonesia saat ini yang sepertinya merdeka tapi sesungguhnya berada dalam lingkaran jebakan penjajahan total dan sistematis oleh perang strategi Yahudi, pada tingkatan taktis dapat dianalisa sebagai perang ekonomi antara poros Amerika dan poros China. Indonesia berada dalam pusaran jebakan perang itu dan menjadi korban akibat ketidaksiapan menghadapi dan memanfaatkan situasi perang strategi. Sejarah akan berulang terus menerus dari masa ke masa, dari jaman ke jaman, dari generasi ke generasi, dari peradaban ke peradaban. Kehampaan ideologi adalah penyebab utama, penyakit lupa ingatan pada pelajaran sejarah menjadikan kita akan selalu “belajar menjadi korban”.

Peringatan Dini Intelijen di Media Massa

Peringatan Dini Intelijen di Media Massa

Tugas kita adalah memompa keberanian untuk “membongkar batas-batas keilmuan”. Mari kita lewati hidup yang singkat ini untuk bersama menegakkan kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Hidupkan perjuangan, merdeka 100%. Jangan pernah takut untuk berkata “Tidak !”. Amin.

MANIFESTO :

Atas nama rakyat, kebenaran, keadilan dan kemanusiaan, dipersembahkan untuk bangsa Indonesia. singgasana “manusia merdeka” adalah kebebasan tanpa rasa takut dari penindasan kebenaran-kebenaran tiran, persoalan memuliakan manusia adalah kehendak menjadi “jiwa yang bebas”, perjuangan mendewasakan manusia, karena titik sentral alam semesta adalah manusia sang khalifah.. sehingga tidak ada lagi dinding pemisah antara MANUSIA dan KEBENARAN.

[ Tim Manifesto: Jumi Sanoprika, Oyik Darpito, Zaid Perdana, Michell, Mussanurvan ]

=!=

For Pentagon, Asia Moving to Forefront

By Thomas E. Ricks
Posted on 05/26/2000

When Pentagon officials first sat down last year to update the core planning document of the Joint Chiefs of Staff, they listed China as a potential future adversary, a momentous change from the last decade of the Cold War.

But when the final version of the document, titled “Joint Vision 2020,” is released next week, it will be far more discreet. Rather than explicitly pointing at China, it simply will warn of the possible rise of an unidentified “peer competitor.”

The Joint Chiefs’ wrestling with how to think about China–and how open to be about that effort–captures in a nutshell the U.S. military’s quiet shift away from its traditional focus on Europe. Cautiously but steadily, the Pentagon is looking at Asia as the most likely arena for future military conflict, or at least competition.

“The focus of great power competition is likely to shift from Europe to Asia,” said Andrew Krepinevich, director of the Center for Strategic and Budgetary Assessments, a small but influential Washington think tank. James Bodner, the principal deputy undersecretary of defense for policy, added that, “The center of gravity of the world economy has shifted to Asia, and U.S. interests flow with that.”

When Marine Gen. Anthony Zinni, one of the most thoughtful senior officers in the military, met with the Army Science Board earlier this spring, he commented off-handedly that America’s “long-standing Europe-centric focus” probably would shift in coming decades as policymakers “pay more attention to the Pacific Rim, and especially to China.” This is partly because of trade and economics, he indicated, and partly because of the changing ethnic makeup of the U.S. population.

War Gaming

The U.S. military’s favorite way of testing its assumptions and ideas is to run a war game. Increasingly, the major games played by the Pentagon–except for the Army–take place in Asia, on an arc from Tehran to Tokyo. The games are used to ask how the U.S. military might respond to some of the biggest questions it faces: Will Iran go nuclear–or become more aggressive with an array of hard-to-stop cruise missiles? Will Pakistan and India engage in nuclear war–or, perhaps even worse, will Pakistan break up, with its nuclear weapons falling into the hands of Afghan mujaheddin? Will Indonesia fall apart? Will North Korea collapse peacefully? And what may be the biggest question of all: Will the United States and China avoid military confrontation? All in all, estimates one Pentagon official, about two-thirds of the forward-looking games staged by the Pentagon over the last eight years have taken place partly or wholly in Asia.

“I think that, however reluctantly, we are beginning to face up to the fact that we are likely over the next few years to be engaged in an ongoing military competition with China,” noted Princeton political scientist Aaron L. Friedberg. “Indeed, in certain respects, we already are.”

Twin Efforts

The new attention to Asia also is reflected in two long-running, military-diplomatic efforts. The first is a drive to renegotiate the U.S. military presence in northeast Asia.

Southeast Asia Redux

The second major diplomatic move is the negotiation of the U.S. military’s reentry in Southeast Asia.

• Report :
The United States Security Strategy for the East Asia-Pacific Region 1998″ • The Pentagon’s Feb. 1999 Report to Congress: “The Security Situation in the Taiwan Strait”

By Thomas E. Ricks, Washington Post Staff Writer Friday, May 26, 2000; Page A01
=!=

PHP Shell

October 9, 2008 1 comment

PHP Shell is a shell wrapped in a PHP script. It’s a tool you can use to execute arbitrary shell-commands or browse the filesystem on your remote webserver. This replaces, to a degree, a normal telnet connection, and to a lesser degree a SSH connection. It`s a convenient interface to execute shell-commands or browse the filesystem on your remote web server. Similar to a telnet or SSH connection. Use it for administration and maintenance of your web site using commands like ps, cat, gunzip, and more. Please use the SourceForge, the world’s largest development and download repository of Open Source code and applications facilities to obtain help on PHP Shell. The latest version of PHP Shell is 2.1 from December 27, 2005.

-=-

PHP Shell v2.1 by Martin Geisler

PHP Shell v2.1 by Martin Geisler

-=-

PHP Shell just gives you a convenient interface to the normal PHP commands for executing programs. There’s no magic going on here. This applies to everybody: go read the PHP documentation on “proc_open” if you’re in doubt as to what PHP Shell gives you.

-=-

proc_open —  Execute a command and open file pointers for input/output

proc_open — Execute a command and open file pointers for input/output

-=-

To run PHP Shell via an URL you simply have to pass a command via the command GET argument. Remember that you have to encode it yourself like the PHP urlencode() function would do: replace spaces with + and other non-alphanumeric characters with their hexadecimal representation.

Then something like this should work:

http://example.com/phpshell.php?command=chmod+a%2Bx+somescript

where the spaces have been encoded as + and the + itself is encoded as %2B.

Everybody: please understand that enabling PHP on your webserver is a risk — you turn something which would normally just server static pages (an idempotent operation) into something which can potentially make a whole lot of problems.

I’ve said it before and I’ll say it again: PHP Shell has no “magic” commands in it, just a simple call to the builtin proc_open() PHP function. So the problem lies with PHP — PHP Shell just makes it more convenient to exploit insecure PHP installations, but it does not fundamentally change the problem. Use the phpshell-devel mailing list for all discussion on PHP Shell.

[Martin Geisler - PHP Shell] – See the index and manual of Martin Geisler`s PHP Shell

To Be Continued . . .  [ Implementation of PHP Shell ] – “security is not hacking”

Respubliken Indoneswa

September 8, 2008 Leave a comment

Menegakkan Kedaulatan Rakyat Dengan Membangun Generasi Mandiri

*Mengantisipasi Ancaman Keutuhan Bangsa Indonesia

Resume “Sarasehan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia”

Gedung Juang Jakarta, 2002.

*************************************************************

Dimuat Harian Medan Pos, 26 Mei 2006

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional

Deklarasi Masyarakat Anti Komunis Sumatera Utara

Tugu `66, Medan – 20 Mei 2006

************************************************************

Edited: 08 September 2008

Memperingati Hari “Respubliken Indoneswa”, 9 September 1927

*************************************************************

PERTEMUAN wakil-wakil 18 kerajaan pada tanggal 9 September 1927 di Istana Tapak Siring Bali merumuskan komitmen kebangsaan, bahwa kerajaan-kerajaan di Nusantara menyadari persamaan nasib sebagai bangsa terjajah, bangsa tertindas oleh praktik kolonialisme. Persamaan ini terkristalisasi ke dalam tataran nilai ide, keinginan bersatu dalam sebuah “Respubliken”.

Nilai ide dari Respubliken Indoneswa, kemudian dikenal dengan Republik Indonesia, adalah kesadaran untuk bersatu dalam sebuah negara, naluri perlawanan dari bangsa terjajah untuk menolak segala bentuk penjajahan, khususnya pada saat itu di wilayah territorial persada nusantara Indonesia. Inilah filosofi kenegaraan Republik Indonesia. Tidak cukup filosofi kenegaraan, sebuah bangsa seperti Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, etnis, ras, dan budaya, dari Aceh hingga Papua, perlu ikatan filosofi kebangsaan, yakni Negara Kesatuan.

Bangsa-negara (Nation-State) Republik Indonesia ini kemudian berkomitmen, Negara Kesatuan dalam wilayah kebangsaan perlu menjamin tegaknya Kedaulatan Rakyat. Parameter Kedaulatan Rakyat tersebut yakni “Keadilan Sosial” dengan menciptakan masyarakat makmur sejahtera. Republik Indonesia dalam wilayah kenegaraan perlu menjamin proses demokrasi yang sesuai kondisi objektif bangsa. Demokrasi yang original kebangsaan, bukan demokrasi plagiat yang mengadopsi demokrasi ala Amerika, maupun ala Eropa. Kedaulatan Rakyat dan Proses Demokrasi inilah yang kemudian menjadi komitmen dari keinginan luhur bangsa Indonesia saat mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), prasyarat keutuhan negara-bangsa.

Misi penegakan kedaulatan rakyat dan pengawasan proses demokrasi diatur dalam lembaganya masing-masing, yakni lembaga kedaulatan rakyat dan lembaga proses demokrasi. Strategis kedaulatan rakyat telah tertuang dalam Pasal 1 Ayat 2 Undang-undang Dasar (UUD) NKRI tahun 1945, bentuk negara kesatuan berdasarkan nilai-nilai Pancasila sebagai platform kebangsaan. Namun kemudian, polemik sistem kenegaraan Republik Indonesia bersumber pada proses demokrasi yang diatur dalam Pasal 2 Ayat 1 UUD NKRI tahun 1945 yang menerapkan demokrasi Trias Politika ala Montesqiue, yakni demokrasi kepartaian. Masyarakat merasakan bahwa proses demokrasi kepartian justru mendistorsi kedaulatan rakyat, bukannya dikontrol oleh penegakan kedaulatan rakyat yang hakiki, yakni mendengarkan suara hati nurani rakyat, bukan kepentingan politik golongan elit wakil rakyat yang duduk di parlemen.

Dinamika gerakan mahasiswa dan pemuda, paska Angkatan `45 dan Angkatan `66 dirasakan hanya sampai ke titik kristalisasi tanpa akumulasi kekuatan. Akumulasi kekuatan diharapkan mampu membangun kekuatan originalitas bangsa, melahirkan ketokohan kepemimpinan nasional sekapasitas Tan Malaka, Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Syahrir.

Malah yang lahir kemudian justru generasi-generasi plagiat yang menjadikan Marx, Lenin, Trotsky sebagai panutan. Ke depan, mahasiswa dan pemuda hendaknya segera me-manage asset bangsanya ini menjadi generasi yang mandiri, bangsa yang kreatif (Creative Society) sehingga mampu membangun kedaulatan rakyat. Generasi mandiri adalah generasi yang tidak bergantung pada bangsa asing, tanpa terpesona oleh tipuan kapitalisme dan komunisme dan yang terpenting, generasi yang tahu dan mengerti menghitung asset bangsa, wilayah bangsa dan ideologi bangsa. Generasi era tahun 2000 inilah yang diharapkan mampu membangun kemandirian generasi, siap menerima estafet perjuangan dari generasi Angkatan `45 yang mengantarkan bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Namun, siap pula meneruskan perjuangan generasi Angkatan `66 yang telah menghirup udara alam kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan dengan melawan pengaruh komunisme di Indonesia. Tetapi, samudra luas kemerdekaan ini masih harus tetap dipertahankan oleh ancaman bangsa asing melalui kapitalisme total dan komunisme. Saat ini kita berada dalam kapal yang oleng dan retak sana-sini. Tergantung kita generasi muda penerus perjuangan bangsa, apakah kita tenggelam bersama kapal bangsa ini yang hampir karam, atau bersama-sama kita perbaiki dan nakhodai mengarungi samudra kemerdekaan. MERDEKA 100 % !!! ***

Release KARAT

September 7, 2008 1 comment

HAI AUSTRALIA dan AMERIKA !

KAMU RASIS, RASIALIS dan FASIS

Release KARAT (Komite Aksi Rakyat Territorial)

Bagian-1 dan Bagian-2

Bagian-1 Dicetak Ulang Kembali Bersama Bagian-2

Jakarta, 13 April 2006

Edited: 07 September 2008

BAGIAN-1

Benua Australia adalah milik bangsa ABORIGIN sebelum dirampok dan dijarah oleh bangsa “kulit putih” dari Eropa. Benua Amerika adalah milik bangsa INDIAN sebelum bangsa “kulit putih” merampok dan membunuh mereka. Bangsa kulit putih ini juga berasal dari Eropa.

Kemanakah bangsa ABORIGIN dan bangsa INDIAN ini ?

Dimanakah mereka berada ?

Bangsa ABORIGIN “berkulit hitam dan berambut keriting”. Bangsa INDIAN “berkulit merah dan berambut hitam”. Bangsa ABORIGIN telah “dibuang” ke daerah gersang tanpa air, di antara ular dan buaya serta binatang buas lainnya di tanah benua Australia milik mereka sendiri seperti yang ditempatkan oleh Tuhan. Bangsa INDIAN telah “dibuang” ke tengah-tengah rawa-rawa Missisippi dan rawa-rawa lainnya, hidup dengan ular, buaya, dsb. Bangsa Aborigin dan bangsa Indian sudah “dilimitkan” menjadi “suku terasing” di tanah airnya sendiri. Siapakah yang “memaksa” mereka “hidup segan mati tak mau” seperti itu ? Mereka diperlakukan seperti BINATANG oleh bangsa KULIT PUTIH yang menggembar-gemborkan dirinya anti rasis, anti rasialis, memuliakan hak asasi manusia, penegak humanitair, hak menentukan nasib sendiri, dsb. Ternyata propaganda double-standard itu semua cuma “mulut kotor” bangsa kulit putih dan tipuan belaka.

Bangsa kulit putih yang berasal dari Eropa dan sekarang merupakan “penguasa-penjajah” benua Australia berasal dari kaum KRIMINAL, maling begal, dan gembel, yang “dibuang” oleh penguasa Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Keturunan begal inilah yang kini berkuasa di benua Australia, tentu saja ditambah serta bercampur dengan keturunan orang kulit putih Eropa lainnya yang datang kemudian. Tetapi sama saja, mereka telah menghinakan manusia ABORIGIN, telah “membinatangkan” manusia ABORIGIN, telah MELANGGAR HAK ASASI MANUSIA dalam kualitas pelanggaran “super berat”. Kualitas yang sama juga juga dilakukan oleh bangsa kulit putih dari Eropa terhadap bangsa INDIAN di benua Amerika. Tetapi bangsa kulit putih Amerika punya tambahan “dosa tak berampun” lainnya yaitu PERBUDAKAN terhadap “BANGSA NEGRO”, yang diculik dan diperjuabelikan dari benua Afrika. Negro adalah bangsa “kulit hitam“, bukan bangsa kulit putih. Perang Abraham Lincoln (perang sipil) untuk menghapuskan perbudakan telah menyisakan perlakuan RASIS dan RASIALIS dari orang kulit putih terhadap orang kulit hitam NEGRO di Amerika Serikat hingga detik ini. Hal ini terungkap ketika Condoleeza Rice Menlu AS buka mulut di sekolah Madrasah Islam jl. Raden Saleh Jakarta Pusat dalam kedatangannya ke Indonesia “persis” ketika penandatanganan kontrak paksaan eksplorasi BLOK CEPU antara EXXON Oil dengan Pertamina. Kasus Blok Cepu itu sendiri merupakan “bukti” bagaimana sebenarnya bangsa kulit putih memperlakukan bangsa-bangsa, tanah air, kekayaan alam, “kedaulatan”, “hak dari Tuhan” yang dimiliki oleh bangsa-bangsa “kulit berwarna” (orang Indonesia: SAWO MATANG).

Kita sama sekali tidak “tutup mata” dan “tutup mulut” tentang RASIS dan RASIALIS bangsa kulit putih Amerika Serikat, Australia dan Eropa, mereka RASIS dan RASIALIS !. Jangan mau ditipu dengan rayuan dan kata persamaan hak, tidak ada perbedaan AGAMA dan warna kulit, menghormati “kedaulatan”, “kemerdekaan”, “keadilan” dan “kemanusiaan”. Mereka inilah yang “menginjak-injaknya”. Sekali-kali JANGAN LUPAKAN ITU !.

Catat dan ingat baik-baik bahwa BUSH, Presiden AS dan HOWARD Perdana Menteri Australia adalah HITLER serta FASIS abad 21. Di belakang mereka “berdiri” Yahudi-Zionis WOLFOWITZ dan ALEXANDER DOWNER, baca: FREEMASONRY !. Bahwa orang-orang Yahudi menganggap bangsa-bangsa selain Yahudi adalah “BATU BUTA”, termasuk bangsa “pagan” Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Italy, Spanyol, Portugis, Belgia, Austria, Rusia, Cina, Jepang, Indonesia, Negro, Indian, Aborigin, Maori, India, Creol, Bush, Howard, Rumsfeld, si Condy (Condoleeza Rice), Blair, dsb.

Jadi, “kalian” wahai Australia dan Amerika jangan berpikir bahwa “pemberian visa” kepada orang Papua di Australia itu hanya sekedar “basa-basi” dengan segala macam rayuan busuk seperti yang kamu koar-koarkan itu. Semua itu ada kaitannya dengan rentetan lepasnya Timor-Timur dari NKRI, Bom Bali-I dan II, Bom Marriot, Bom di depan Kedubes Filipina dan Australia, tragedi Poso, tragedi Aceh, tragedi Ambon/Maluku, dan terakhir tragedi Papua Barat. Semua itu KALIAN PUNYA KERJA ! Kalian si RASIS, RASIALIS dan FASIS. Lima puluh juta (50.000.000) MAHASISWA dan PEMUDA Indonesia dan lima ratus ribu (500.000) TNI-TENTARA RAKYAT Indonesia TAHU itu !!!. Apakah polisi Australia itu masih “ngendon” di Mabes POLRI?

Ataukah itu “tidak pernah ada” setelah Bom Marriot dan setelah kasus Abepura?

Jangan sekali-kali “kalian” berpikir wahai Amerika dan Australia bahwa Mahasiswa dan Pemuda Indonesia itu “bermata buta”, “berkuping tuli” dan “bermulut bungkam”. TIDAK !. Kami cerdas, kami memiliki intelijensia tinggi, dan kami mengerti intelijen !.

Orang-orang intelijen yang kalian kirim kemari juga “pekerja kasar”. APANYA yang tidak kami deteksi? Mereka juga “korup” dan “memble” kok. Kalian Cuma punya DUIT, peralatan teknologi canggih, kekuasaan kenegaraan, persenjataan, dan tentara. Semua itu kami tidak punya. Tetapi kami mampu “membaca” dan “mendeteksi” apa KERJA dan apa MAUNYA kalian. Apanya yang kami tidak tahu? Apalagi soal “double standard” kalian itu.

· Amerika kan sedang berada dalam “Perang Strategy” dengan RRC? Ya nggak?

· Tetapi Rusia, Jerman, dan Perancis “berada” di belakang RRC kan ?

· Inggris ingin mengadu domba AS versus RRC sehingga dengan demikian Inggris kembali “berkibar” pasca kehancuran Amerika? Ya kan?

· Australia itu terkadang “ikut Amerika”, terkadang “ikut Inggris”. Ya kan?

· Di Singapore itu “ngendon” Amerika, Cina, India, Melayu (sedikit) dan Yahudi. “Kabarnya” tentara Singapore itu terdiri dari “pasukan Yahudi” dan “keturunan Cina”. Ya nggak?

· Singapore sudah mendapat “tugas” dari RRC dan AS agar segera “masuk” kepulauan Batam dan Pulau Bintan.Ya nggak?

· Jadi daerah-daerah kami yang sedang “kalian” kerjain adalah Papua, Poso, Timor Barat, Maluku, Aceh, Batam dan Bintan. Ya nggak?

· Apa yang sedang kalian kerjakan di Sulawesi Utara? Kalian sudah kapok kan di Irak? dan “cuak” di Iran? dan sudah berkonspirasi dengan suku Karen di Myanmar kan? Kapan Amerika Serikat “masuk” ke Manchuria untuk “memalang” antara Rusia dengan Cina? dan kapan Tanah Genting Kra dijadikan terusan?

Jadi, ‘kalian’ Australia dan Amerika jangan ‘sok’ operasi intel-lah. Kelihatan semua itu oleh ‘mata’ kami Mahasiswa dan Pemuda Indonesia. Tapi kami kurang berselera untuk membikin malu CIA, Pentagon, MI-6, Mossad, dan intel-AUSTRALIA.

Ingat baik-baik hai Australia bahwa kami tidak pernah melupakan asal ‘keturunan’ kalian dari GARONG Eropa ! Sampai sekarang tabi’at kalian masih tabi’at garong, begal, rampok, curang tidak bisa dipercaya ! Ketika orang Papua dibawah penjajahan Belanda orang Papua tetap telanjang pakai KOTEKA. Baru setelah berada didalam NKRI MERDEKA, orang Papua bisa pake baju dan celana. Hanya orang Papua yang ‘indo’ dan menjadi budak penjajahan Belanda yang bisa berpakaian dan sekolah. Nah kamu Australia mau apa pula di Papua ?

Kamu Australia tidak bisa membebaskan diri selain dari menjadi ‘EKOR’ Amerika dan Inggris sambil ‘mencuri’ kesempatan bagi dirimu sendiri. Eksistensi, watak, dan tabi’at Australia tidak lebih dari itu. KEPINGIN MIMPI MENJADI NEGARA ADIKUASA.

BAGIAN-2

Australia ibarat seekor ‘kangguru-sakit’ dan Amerika ibarat ‘Romawi-sakit’. Kedua-duanya baru terbangun dari mimpi buruk yang diciptakan oleh Evengelist, Zionis, dan Fasis. Bush yang ‘IQ-jongkok’ itu dan HOWARD yang ‘sakit jiwa’ (sebenarnya dia mengidap penyakit “minder”) kebetulan ‘ketemu’ dalam jebakan kekuasaan ‘gelap’ yang mereka tidak sadari. Yaitu, mereka dijadikan ‘budak’ dan ‘batu buta’ belaka. Negara Amerika-Serikat dan Negara Australia sedang ‘dipertaruhkan’ EKSISTENSINYA saat ini.

Bagi kita syukur-syukur saja dan kita tahu persis bahwa kedua negara ini sedang dalam proses ‘hancur dari dalam’. Kondisi objektif perkembangan ‘jiwa’ manusia sedang mengalami perubahan yang sangat fundamental dalam abad 21 ini. Dan ‘sedihnya’, itu sedang berkembang di dalam tubuh kedua negara tersebut ‘Orang Negro’ yang masih tetap hitam pekat berminyak dengan rambut kriting, bekas budak, sekarang ini telah berada pada puncak ‘kematangannya’ di Amerika. Dendam kesumat sekian kali tujuh turunan ‘sudah menjadi’ saat ini. Yomo Kenyiatta dan Nelson Mandela telah memberi inspirasi kepada negro-Amerika ini. Kedua ‘orang besar’ kulit hitam asli Afrika itu telah berhasil membuat orang negro ‘menjadi orang’ kembali, setelah berabad-abad dijadikan binatang oleh bangsa kulit-putih Amerika keturunan Eropa-daratan dan Anglo-Saxon penegak kebiadaban-manusia. Kemajuan teknologi ternyata tidak berpengaruh terhadap ‘jiwa biadab’ bangsa kulit-putih, malahan menjadi lebih biadab seperti terlihat sekarang ini.

Selain orang negro, saat ini di seluruh negara Amerika-Serikat telah bangkit dan ‘sayangnya’sudah pula terorganisir orang-orang keturunan Mexico, Cina, Jepang, Vietnam, Korea, Timur-Tengah, INDIAN, dan Yahudi, telah siap menjadi ‘bom waktu’ untuk meledak. FBI, CIA, Pentagon itu ‘memble’ di dalam negerinya. ‘Namanya’ saja yang besar di luar, padahal di dalam negaranya sendiri keropos. Semuanya perkembangan tersebut tidak bisa lagi ‘disurutkan ke belakang’, sebab rodanya sudah berputar ke depan. Kebangkitan negara Cina-RRC telah mendongkrak itu semua dengan percepatan yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia yang berfikir berdasarkan ‘referensi’ buluk belaka. Mesin quick count “NDI (National Democratic Institute -LSI (Lembaga Survei Indonesia) – FI (Freedom Institute)” bersama begundal-begundal Amerika itu tidak bisa menghentikan ‘ledakan’ bom-waktu ALIANSI bangsa-bangsa yang selama ini ngendon di bumi-Indian Amerika itu. Takdirnya sudah ‘sampai’ dan faktor sunnatullahnya sudah ‘cukup’. Mengapa NDI-LSI-FI ? Karena perkembangan di Amerika itu akan berpengaruh ke Indonesia. Ingat-ingat itu !!! Dunia ini kecil bung !

Pararel dengan perkembangan yang terjadi di dalam negara Amerika, maka di bumi–Aborigin Australia telah tercipta, telah tergumpal pula dalam suatu ‘gumpalan pekat’ diantara orang-orang keturunan dan pengungsi atau orang minta suaka dari Vietnam, Bangladesh, Pakistan, India, CINA, Afganistan, Jepang, ABORIGIN. Ini bukan sekedar Bom-Bali dan Bom-Marriot tetapi setara bom-atom Amerika yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.

Catatan : MI-6, Mossad, Jezuit, dan Zionis boleh membuka arsipnya mengenai perkembangan ini. CIA, Pentagon dan Intel Australia yang sok-arogan itu tidak punya data seperti ini karena sudah ‘terlena’ dalam mimpinya untuk ‘mengangkangi’ sumber daya alam Indonesia serta bercita-cita ‘membubarkan’ NEGARA Republik Indonesia.

Kegetolan Amerika dan Australia melancarkan ‘PERANG TERORIS’ kepada negara-negara Timur-Tengah dan INDONESIA (bukan Filipina, bukan Thailand, bukan Singapore) itu sedang berbalik surut menjadi ‘senjata makan tuan’. Dan kampanye ‘otak kosong’ Amerika dan Australia tentang terorisme dan ‘akan ada teror’ di Indonesia dengan (antara lain) sudah untuk kedua kalinya mengeluarkan ‘travel warning’, sedang dalam menjadi ‘mulut kamu harimau kamu, yang merekah kepalamu’. Terorisme yang dikoar-koarkan, HAM yang dijadikan barang jualan basi, dan kesetaraan-persamaan-kerjasama dan berbagai sampah lainnya itu SUDAH berbalik menjadi permusuhan seluruh dunia terhadap Amerika dan Australia.

MI-6 tentu TIDAK-SEMBARANGAN ‘merekomendasikan’ BLAIR segera mengunjungi Indonesia dan khusus menemui ‘orang-Islam-nya’, benar-benar TEPAT WAKTU. Boleh juga mih MI-6; menangguk di air keruh pada saat Australia dan Amerika ‘bermasalah’ disini. Tetapi siapa di belakang MI-6 ? Inggris pasti punya arsip tentang kebiadaban Klu Klux Klan Amerika dan ‘Klu Klux Klan’ garong dan pembantai bangsa Aborigin di Australia. Dibanding Amerika dan Australia, disini Inggris masih meninggalkan nama Raffles yang harum. Inggris juga ‘berhitung’ tentang manuver Australia mendekati Jepang sekarang adalah saat yang tidak tepat. Kemelesetan Amerika dan Australia benar-benar menguntungkan Inggris. Sebaliknya, kita tetap ‘terjerat’ dalam belenggu quick count Amerika yang telah menaikkan SBY kesinggasana yang pernah diduduki oleh Sukarno dan Suharto idolanya. Sementara ‘anak asuhan’ Amerika mengelilingi serta ‘menghantuinya’, tentu saja minta porsi yang lebih banyak.

Sebagai ‘Gubernur Jendral’ Amerika hasil mesin quick count, SBY ‘mati-kutu’ terhadap penginjak-injakan Australia, ‘ekor’ Amerika itu. Yang bisa dikerjakan SBY adalah menari-narikan tangannya di depan TV sambil mempertontonkan anak Sarwo Edhi (hampir seperti Gusdur menjual kelumpuhan istrinya). Sementara itu, orang yang disebut namanya tiga kali dalam Surat At-Takatsur, mengambil kesempatan dan keuntungan terus. Masih belum puas dengan ’proyek MOU RI-GAM’ Helsinki, digarap lagi ‘proyek perusakan Batam dan Bintan’ bersama Singapore (artinya; Singapore boleh memperluas negaranya sampai ke pulau Bintan dan Batam), ditambah lagi dengan ‘proyek 1.000 kilometer’ jalan tol mungkin dari Merak ke Ketapang (lebih panjang dari ‘jalan Deandels’). Nah berapa batu, pasir, aspal, truk, bulldozer, dsb yang dibutuhkan ya ?? Masalah pertanahan tambah panjang daftarnya, paling tidak sepanjang jalan ‘Deandels-II’ ini. Gang of Four tiung-tiung, rakyat meraung-raung, penegak hukum kudung (putus-kaki, putus-tangan), konflik horizontal membumbung, Mahasiswa dan Pemuda MAUNG.

Semua ini berada ‘di bawah ruang lingkup’ operasi-TERORIS Amerika-Serikat dan Australia. “Maharaja” Exxon-Freeport-Newmont-Caltex-Shell bertambah ‘cerdas’ dan perkasa dalam menjalankan ‘penjajahannya’ terhadap PENGUASA dan rakyat Indonesia. Zikir maharaja-teroris seperti Jama’ah Islamiyah, Al-Qaeda, Nurdin M.Top, kaum-fundamentalis-Islam, pengayaan uranium proyek nuklir Iran, konflik sektarian di Pakistan-Irak-Turki-India-Kashmir-Somalia-Thailand dsb terus ‘dikoar-koarkan’ melalui operasi psywar dan ‘perang agiprop’ serta ‘perang informasi dan komunikasi’.

Pemerintah, DPR, DPD, ‘preman’ partai politik, ‘pengamat’, profesor-doktor, KADIN, Bank Indonesia, dsb ‘semua memble’, ‘tidak mengerti gerak musuh’, ‘bersedia DITIPU’, ‘tunduk kepada intimidasi dan pendiktean asing’, dsb. Jadi saat ini tidak ada lagi yang dapat diharapkan untuk ‘menyelamatkan’ bangsa dan rakyat dari ‘pemerkosaan’, dari ‘penjajahan’, dari ‘penipuan’ oleh bangsa kulit-putih eks-kolonialis, neo-kolonialis, liberalisme, dan imprealisme gaya baru. Semua TOLOL dan BODOH (tapi pintar korupsi). Zikir maharaja teroris itu tidak bisa HANYA zikir-massal, istighosah, do’a-bersama, unjukrasa berseragam parade kesopanan Islami, dan caci maki yang tidak strategis serta tidak ditunjukkan ‘langsung’ kepada Markas-Besar Teroris di Gedung Putih (White House) Washington dan sempalannya si-paranoid di Canberra.

Kasus Abepura dan kasus-kasus lainnya yang terjadi di Papua merupakan 100 % operasi intelijen yang bercampur-baur dari beberapa pihak. Pihak Australia dan Amerika-Serikat PASTI terlibat. Tetapi masalahnya: siapa ‘pihak-lain’ itu selain AS dan Australia ? Bahwa OPM dan LSM telah ‘dipakai’ dan menjadi pelaksana-operasi intelijen mereka, itu tidak usah dipersoalkan lagi, sebab MEMANG BEGITU. Apakah Belanda terlibat ? Ya pasti toch ? Dalam masalah Timtim, selain Australia, apakah AS dan Portogal terlibat ? Ya so pasti toch ? Mereka teroris yang sebenarnya, bukan teroris-terorisan. Dan siapa ‘AGEN’ mereka selain OPM dan LSM dan ‘kaum indo’ di Papua dan Timor-Leste ? Ya manusia sawo matang dan kulit hitam itu sendiri yang berperan sebagai ‘NICA’ imperialis-teroris di dalam negara dan tubuh bangsa ini. NICA-NICA ini yang duluan HARUS ‘digorok’.

Di Indonesia ini tidak-ada satu peristiwa atau kasus atau tragedi yang berdiri-sendiri. Satu dengan yang lain kait terkait. Dari mana mulai untuk menjernihkan benang kusut dan proses hancur-hancuran bangsa ini ? Dari ‘menggorok’ NICA-NICA itu ! Mereka bukan hanya NICA-NICA, NICA-Pentagon, NICA-intelijen Australia, NICA-Portugal, NICA-Belanda, dsb tetapi juga NICA-Singapore, NICA-IMF, NICA-Bank Dunia, NICA-Cina, NICA-RRC, NICA-Liberalisme, NICA-globalisasi dan perdagangan bebas dunia, NICA-‘bantuan kemanusiaan’, NICA-diantara (tidak semua) LSM tertentu, NICA di kalangan intelijen ‘sisa’ OPSUS Ali Murtopo, NICA di kalangan TV-SWASTA yang sudah dikuasai oleh pihak asing (lihat saja siapa yang paling getol menyiarkan rekayasa quick count dan flu-burung/demam-berdarah/lumpuh-layu dsb), NICA di kalangan wartawan dan pemilik serta redaksi surat kabar, NICA di kalangan PENGUSAHA pribumi-kaya KKN dan non pribumi KKN, dsb, dsb.

Semua deretan ‘daftar NICA’ tersebut-lah yang merupakan ‘penggorok bangsa’ bersama para KORUPTOR penghancur bangsa.

Soal 42 peminta suaka ke Australia, (yang ‘katanya’ adalah dari Papua-Indonesia), kulitnya hitam rambut keriting, itu SOAL KECIL. Itu cuma ‘bahagian kecil’ dari operasi intelijen BEBERAPA PIHAK, seperti yang sudah digambarkan di atas. Itu cuma ‘satu mata-rantai’ saja dari operasi intelijen yang BESAR, panjang dan strategis. Lepasnya TIMTIM dari NKRI itulah cermin tindakan 42 orang peminta suaka itu. Sebanyak 42 orang oknum itu ‘dibawa keluar’ oleh operasi intelijen untuk ‘memprovokasiIndonesia. Perkara ‘alasan’ mereka ‘lari’ ke Australia itu, itu bisa apa saja bunyinya. Dan alasan itu tidak penting. Tindakan operasi intelejen dan memprovokasi REPUBLIK Indonesia yang terus dilancarkan oleh negara-negara kulit-putih kapitalis-imperialis terhadap bangsa dan NEGARA Republik Indonesia, itulah INTI masalah kita. Kata ‘genocide’ dipakai, sebenarnya mesti dilihat analoginya dengan kata ‘senjata pemusnah massal’ yang dituduh Amerika terhadap Sadam Husein, lalu Irak di-intervensi dan DIJAJAH, tuduhan genocide sudah jelas tujuannya !!!.

42 ekor’ peminta suaka ke Australia itu belum tentu orang Papua, jadi itu soal ‘gelap’ operasi intelijen belaka. Yang perlu diurus oleh pemerintah SBY adalah: kalau Amerika dan Australia mengeluarkan travel warning sekali lagi, maka Presiden atau Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) harus mengeluarkan pernyataan seperti:

‘ORANG AUSTRALIA dan ORANG AMERIKA yang sedang berada di Indonesia DIPERSILAHKAN DENGAN SEGERA MENINGGALKAN WILAYAH REPUBLIK INDONESIA.

Tentu saja pernyataan seperti ini sangat ‘ditakuti’ oleh dua orang: yang satu takut dimarahi BOS-nya, yang satu lagi takut kehilangan proyek. Beginilah bangsa ini telah ‘salah jalan’ karena dipimpin oleh orang-orang goblok dan tidak berkwalitas PEMIMPIN. Ada yang salah pada bangsa ini.

KENAPA YANG NAIK KE TANGGA KEKUASAAN CUMA ‘ORANG KEBETULAN’ MELULU.

Categories: Sosialisme Kerakyatan

Belajar Menjadi Korban

August 31, 2008 1 comment

16 Desember 2002

Edited: 27 Agustus 2008

“Snouck Hurgrounje-II” yaitu persisnya saat ini diperankan oleh “Henry Dunant Centre”, memulai lagi debutnya di Aceh. Tentu saja, secara historis itu merupakan kelanjutan dari kerja Snouck Hurgrounje dan “van Heutz” lebih 100 tahun yang lalu.

Aceh “terpaksa” menerima kemenanganini walaupun merupakan hadiah yang dipaksakan oleh situasi, di sisi lain dan alasan kuat yang digunakan adalah masalah HAM sudah terbingkai dalam deklarasi-deklarasi PBB, beberapa Undang-undang Dasar Negara dan telah menjadi “isu perjuangan” sementara (temporer) oleh manusia-manusia yang sepertinya berjuang untuk menegakkan kemanusiaan, kebenaran dan keadilan.

Negara Republik Indonesia yang “Kesatuan” ini juga dengan pasrah “dipaksa” menerima perjanjian-perjanjian Jenewa yang telah digariskan oleh Henry Dunant Centre (HDC) atau Snouck Hurgrounje-II (SH-II). Tidak terlepas juga todongan pelanggaran kemanusiaan berat yang diperankan selama tiga dasawarsa oleh tentara/militer/TNI Indonesia.

Bahwa “kepala” negara kepulauan Republik Indonesia ini telah “menjungkat ke atas” juga bagian dari suatu kenyataan yang tidak dapat ditolak oleh petinggi/penguasa Republik. Singkat kata, Aceh “tidak lagi” hanya urusan Jakarta tetapi telah merebak ke luar menjadi urusan HDC, di sini berperan Jenderal Zinny si Amerika dan di belakang ini semua tersenyum simpul si-Zionis. Tidak kurang dari itu “kenyataan”-nya dan perkembangan tragedi hingga detik ini (s.d Desember 2002).

Amerika dan Yahudi itu terkadang “satu” dan terkadang “dua”. Artinya, terkadang Amerika maju ke depan tanpa backing Yahudi, tetapi terkadang Amerika “diperintah” oleh Yahudi melakukan sesuatu untuk (sebenarnya) kepentingan Yahudi atau Zionis yang “perkasa” itu. Ini juga suatu “kenyataan” lain yang masuk hitungan kaum ideologis dan kaum nasionalis.

Apalah yang hendak dikata, bubur itu telah “jadi”. Aceh telah menjadi urusan “perang strategi” antara AS-cs versus RRC-cs. Isu terorisme dan isu perang terhadap Baghdad tidak terpisah dengan isu Aceh atau lebih tepatnya proses perjanjian berhenti perang antara TNI dengan GAM. Unsur internasional “sudah masuk”, yang diperankan oleh orang Muangthai dan Philipine sebagai wakil AS yang dibelakangnya berdiri Zionis. Zionis itu pun macam-macam, ada Zionis Amerika, ada Zionis Inggris, ada Zionis Swedia, ada Zionis Australia, ada Zionis Rusia, dan sebagainya. Apabila zionis yang satu mendapat kemajuan maka zionis-zionis lainnya menyusul. Selanjutnya jelas, akan terjadi “perebutan” di antara mereka (sesama mereka). Bentuk perebutannya diperankan oleh negara-negara Inggris, AS, Swedia, Australia, dan lain-lain. Tetapi adakah Zionis di dalam negeri Indonesia ? Pasti ada!.

Selama ini, jangankan Zionis sawo matang, bahkan Zionis putih pun sudah bertebaran di muka bumi Indonesia dari Sabang sampai Merauke sebab setiap anak yang lahir dari “rahim perempuan Yahudi” adalah manusia Yahudi. Salah satu nya adalah anak laki-laki Hasan Tiro dari istrinya bernama Dora yang perempuan Yahudi, putra mahkota “kerajaan” Aceh ciptaan Zionis Amerika. Ini juga sudah menjadi kenyataan.

Tetapi ada satu hal yang mungkin akan menyenangkan hati para petani dan pedagang kecil pribumi terhadap si Zionis Yahudi ini, yaitu Yahudi akan “memukul” China di Indonesia. Alasannya, yang mempertahankan dominasi dan monopoli China di Indonesia adalah kaum ordo Jezuit. Apa artinya semua ini bagi kita? Di satu sisi, artinya si penakluk akan ditaklukkan, tetapi “si takluk” ini yaitu si pribumi asli harus belajar menjadi korban lagi.

Inilah hasil operasi pengobaran KKN di Indonesia yang didukung penuh secara halus melalui peran IMF, Bank Dunia (World Bank), ADB, IGGI, CGI, dan multinational coporation yang beroperasi di Indonesia.

Operasi KKN ini mendapat sokongan penuh dari rezim Orde Baru yang pada intinya adalah peranan dari dwi fungsi ABRI dan dipimpin oleh Jenderal Suharto. Hanya pada saat terakhir menjelang Suharto jatuh, dia sadar (suatu kesadaran yang sudah terlambat) dan buru-buru mendekati Islam. Tidak ada gunanya, Suharto telah menjadi korban konspirasi Zionis dan Jezuit di Indonesia.

Proses “pengusiran” orang-orang Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan ke Australia dan Eropa akan sejalan dengan proses pengusiran orang-orang China, dan nantinya juga orang-orang Jepang dari Indonesia. Bersamaan dengan ini, dilakukan pula –sejak “lonceng” 11 September di WTC- proses “pembuangan diri” orang Yahudi dari Amerika dan Eropa ke Indonesia.

Pelaksanaan proses “migrasi” ini menggunakan alat yang ampuh yaitu isu terorisme oleh Amerika dan Inggris. Isu Al Qaeda dan isu Jema`ah Islamiyah berkaitan dengan proses “pengusiran” dan “pembuangan diri” tersebut di atas.

Dunia diharuskan menunggu proses collapse (bangkrut) nya Amerika, yang sedang “dalam-menjadi”. Si dalang Zionis sedang bekerja dan ketika hal itu nanti terjadi, keadaan telah matang bagi eksodus pengusaha Yahudi dari Amerika dan orang-orang China (dan Jepang) akan-telah kehilangan “tanah air” di Indonesia. Situasi “kekosongan” ini nanti yang akan diisi oleh Yahudi. Maka mulailah orang-orang Yahudi menempati “Tanah yang Dijanjikan” itu, yaitu Indonesia yang subur, indah, strategis dan kaya.

http://jadul.com/2008/08/belajar-menjadi-korban/

http://forum.detik.com/showthread.php?t=56823

http://bogabi.com/?p=886

Categories: Sosialisme Kerakyatan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.